Sampah Plastik Meningkat, Hewan Laut Terancam

Sampah plastik menjadi salah satu ancaman besar bagi kehidupan umat manusia dan menjadi salah satu permasalahan global yang belum teratasi.

Sampah plastik terus meningkat setiap tahunnya, akibat produksi yang kian pesat. Dari industri-industri skala kecil hingga skala besar meggunakan bahan plastik dalam pengemasan produk. Misalnya saja botol air mineral yang sering kita minum hingga kantong plastik yang biasa kita gunakan ketika berbelanja. 

Coba bayangkan berapa banyak kantong plastik yang kita gunakan setiap harinya ketika berbelanja di Pasar Tradisional maupun di pusat perbelanjaan. Jika sehari kita membuang satu kantong plastik dan satu botol plastik air mineral, mungkin bisa terkumpul puluhan ribu limbah plastik yang kita buang setiap tahunnya.

Tidak hanya sampai disitu, limbah plastik yang kita gunakan tersebut kemudian akan dibuang ke Laut, baik secara langsung, yakni ketika membuangnya dari atas kapal yang kita tumpangi maupun secara tidak langsung, melalui aliran sungai. 

World Economic Forum pada tahun 2016, merilis data bahwa sampah plastik yang tersebar di Lautan diperkirakan lebih dari 150 juta ton, dan setiap tahunnya masyarakat dunia menyumbang 8 juta ton sampah plastik (Baca: Sampah Plastik di Laut Semakin Meningkat, Indonesia Jadi Penyumbang Terbesar di Dunia).

Sampah plastik yang berada di laut akan tersebar mengikuti arus dan mengancam ekosistem Laut. Ditambah lagi, sampah tersebut membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terurai, sekalipun terurai ia akan menjadi partikel kecil yang juga masih berbahaya bagi biota laut.

Secara ekologi, sampah tersebut sangat berbahaya terhadap terumbu karang. Lautan yang dipenuhi sampah plastik akan mengundang jutaan patogen berbahaya. Lamb (2018) mengemukakan bahwa sebanyak 89% terumbu karang yang terkena sampah plastik akan cenderung terjangkit penyakit. Faktanya, sekitar 60% terumbu karang mengalami rusak parah dan setengah dari terumbu karang terbesar di dunia telah mati.  

Bukan hanya ekosistem terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove juga terancam akibat sampah plastik tersebut. Fitoplankton (mikro alga) yang berperan penting sebagai pakan alami dan penyuplai oksigen di Lautan juga terganggu akibat sampah plastik tersebut.

Partikel plastik yang telah terurai di lautan juga masih sangat berbahaya bagi ikan. Ketika ikan mengonsumsi mikro plastik tersebut, kesehatannya akan terganggu dan bahkan menyebabkan kematian. Tidak hanya sampai disitu saja, akibat proses rantai makanan yang terjadi di Lautan, biota laut lainnya juga akan terakumulasi mikro plastik tersebut (Baca: Mikroplastik, Sampah Kecil yang Mengancam Biota Laut).
Penyu Memakan Kantong Plastik (ScitechEuropa)

Biota laut seperti halnya penyu salah satu hewan yang dilindungi, seringkali ditemukan memakan kantong plastik yang dianggapnya adalah ubur-ubur. Selain itu, sampah plastik tersebut telah dilaporkan membahayakan lebih dari 800 spesies biota laut, dengan 40% diantaranya adalah mamalia laut dan 44% nya lagi adalah spesies burung laut. 

Sementara Konferensi Laut PBB pada 2017, melaporkan bahwa limbah plastik setiap tahunnya telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura, dan ikan yang tak terhitung jumlahnya (Detik).

Sampah plastik menjadi permasalahan nasional, bahkan global yang harus segera diatasi. Yang mengejutkannya lagi, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah plastik terbesar di Dunia setelah China. 

Sehingga negara-negara tersebut telah mengkampanyekan aksi anti sampah plastik dengan melakukan berbagai macam upaya. Di Indonesia misalnya, penggunaan kantong plastik telah dikurangi bahkan dihentikan. 

Pengolahan dan daur ulang sampah plastik juga telah dilakukan, namun lagi-lagi perlu adanya perhatian dan kesadaran semua unsur agar permasalahan lingkungan tersebut bisa segera teratasi. Selain upaya tersebut, penerapan bioteknologi dengan penggunaan mikroba dalam mengurangi sampah plastik juga telah dilakukan (Baca: Sampah Plastik Semakin Meningkat di Laut, Mikroba Bisa Jadi Solusi?).
loading...

Posting Komentar

0 Komentar