Pernahkah kawan-kawan berfikir bahwa kekuatan terbesar umat manusia bukanlah otot yang kekar dan otak yang cerdas, melainkan kemampuannya dalam merangkai cerita dan menyebarkan informasi.
Hal ini telah dijelaskan Yuval Noah Harari dalam buku terbarunya yang berjudul "Neksus". Harari merupakan seorang ahli sejarah, filsuf dan penulis buku sains populer. Buku-buku populernya antara lain : Sapiens, Homo Deus, 21 Lessons for the 21th Century dan Neksus.
Buku Homo Deus pernah saya rangkum dalam artikel sebelumnya (Baca : Homo Deus: Evolusi Manusia Menjadi Tuhan?).
Seperti Buku Harari sebelumnya, Neksus juga berkaitan dengan unsur sejarah. Bagaimana umat manusia merangkai cerita dan menyebarkan informasi.
Dari zaman batu hingga zaman kecerdasan buatan (AI), ternyata informasi memainkan peranan yang sangat penting dalam peradaban umat manusia.
Buku Neksus memberikan kita pemahaman lain menyangkut jejaring informasi, tidak hanya memberikan dampak positif untuk kemajuan, ternyata informasi juga memberikan dampak negatif bagi umat manusia.
Dari Mitos Purba ke Algoritma AI
Pada zaman purba, manusia belum mengenal tulisan, mesin cetak, internet, apalagi kecerdasan buatan. Namun, mereka telah memiliki sebuah teknologi informasi yang sangat kuat, yaitu cerita.
Cerita mengenai roh leluhur, dewa, asal-usul suku dan berbagai mitos lainnya disampaikan secara turun-temurun. Mitos tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi perekat yang menyatukan suatu kelompok.
Melalui cerita yang dipercaya bersama, manusia dapat bekerja sama dengan orang lain dalam jumlah yang lebih besar. Mereka dapat berburu bersama, mempertahankan wilayah, membangun permukiman dan mematuhi aturan kelompok.
Inilah salah satu keunikan manusia dibandingkan makhluk lainnya. Manusia bukan hanya mampu menyampaikan informasi mengenai sesuatu yang nyata, seperti keberadaan makanan atau ancaman binatang buas. Manusia juga mampu menciptakan dan mempercayai sesuatu yang hanya hidup dalam imajinasi bersama.
Negara, mata uang, perusahaan, hukum dan agama dapat bertahan karena manusia secara bersama-sama mempercayai cerita yang mendasarinya.
Selembar uang, misalnya, secara fisik hanyalah sebuah kertas. Namun, uang menjadi berharga karena terdapat kepercayaan bersama bahwa kertas tersebut dapat digunakan sebagai alat pertukaran.
Cerita kemudian mengalami perkembangan setelah manusia menemukan tulisan.
Informasi yang sebelumnya hanya disimpan dalam ingatan manusia dapat dicatat, disalin dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tulisan memungkinkan kerajaan mengumpulkan pajak, mencatat kepemilikan tanah, membuat hukum serta mengatur masyarakat dalam wilayah yang sangat luas.
Kemunculan mesin cetak semakin mempercepat penyebaran informasi. Buku, surat kabar dan pamflet dapat diproduksi dalam jumlah besar. Informasi tidak lagi hanya dikuasai oleh kalangan kerajaan, bangsawan atau pemuka agama.
Kemudian muncul radio dan televisi yang memungkinkan suatu informasi disampaikan kepada jutaan manusia dalam waktu yang hampir bersamaan.
Saat ini, internet dan media sosial telah membawa kita memasuki babak baru. Setiap orang tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi pembuat dan penyebar informasi.
Sebuah informasi dapat tersebar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan detik.
Namun, perkembangan tersebut belum berhenti.
Kini kita memasuki zaman ketika informasi tidak hanya dibuat dan disebarkan oleh manusia. Kecerdasan buatan telah mampu menulis, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menganalisis data dan mengambil keputusan.
Harari menggambarkan AI bukan sekadar alat komunikasi baru, melainkan sebagai bagian dari jaringan informasi yang dapat menghasilkan gagasan dan keputusan tanpa harus mengikuti proses berpikir manusia. Hal inilah yang membedakan AI dari teknologi informasi sebelumnya.
Mesin cetak dapat menyebarkan sebuah buku, tetapi mesin cetak tidak dapat menulis buku tersebut dengan sendirinya.
Radio dapat menyampaikan pidato seorang pemimpin, tetapi radio tidak dapat menentukan pidato apa yang harus disampaikan.
Sebaliknya, AI dapat membuat isi pesan, memilih penerima pesan dan menyesuaikan cara penyampaiannya berdasarkan karakter setiap manusia.
Di masa depan, kita mungkin tidak hanya berinteraksi dengan informasi yang dibuat oleh manusia. Kita juga akan hidup bersama jutaan cerita, gambar, keputusan dan pendapat yang dihasilkan oleh algoritma.
Pertanyaannya, apakah manusia masih menjadi pengendali utama jejaring informasi tersebut?
Atau justru manusia akan dikendalikan oleh cerita yang dibuat oleh mesin?
Bagaimana Informasi Berperan Penting
Kita sering beranggapan bahwa tujuan utama informasi adalah menyampaikan kebenaran.
Semakin banyak informasi yang dimiliki, seharusnya manusia menjadi semakin pintar. Semakin cepat informasi disebarkan, seharusnya masyarakat menjadi semakin maju.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara informasi dan kebenaran tidaklah sesederhana itu.
Informasi tidak selalu digunakan untuk menjelaskan kenyataan. Informasi juga dapat digunakan untuk membangun keteraturan, menciptakan identitas dan mempertahankan kekuasaan.
Sebuah cerita tidak harus sepenuhnya benar agar mampu menyatukan banyak manusia.
Yang lebih penting, cerita tersebut harus dipercaya.
Sebagai contoh, sebuah kerajaan dapat bertahan karena masyarakat mempercayai bahwa rajanya memiliki hak untuk memerintah. Sebuah negara dapat berdiri karena masyarakat mempercayai hukum dan batas wilayahnya. Sebuah perusahaan dapat berkembang karena karyawan, konsumen dan investor mempercayai identitas perusahaan tersebut.
Dengan kata lain, informasi memiliki kemampuan untuk menghubungkan manusia yang tidak saling mengenal (Baca : Big Data : Data yang Maha Kuasa).
Hal tersebut sejalan dengan istilah nexus, yang dapat diartikan sebagai hubungan, simpul atau titik pertemuan.
Informasi menjadi simpul yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya. Semakin luas jaringan tersebut, semakin besar pula kemampuan manusia untuk bekerja sama.
Akan tetapi, jaringan informasi yang kuat belum tentu menghasilkan masyarakat yang bijaksana.
Informasi yang salah juga dapat menghubungkan jutaan manusia.
Propaganda, teori konspirasi dan kebencian dapat menyebar melalui jaringan yang sama dengan ilmu pengetahuan. Bahkan, informasi yang membangkitkan rasa takut dan kemarahan sering kali menyebar lebih cepat daripada penjelasan yang membutuhkan pemikiran panjang.
Sejarah memperlihatkan bagaimana jaringan informasi dapat digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan dan demokrasi. Namun, jaringan yang sama juga dapat digunakan untuk mendukung perburuan penyihir, Nazisme, Stalinisme dan berbagai bentuk kekuasaan totaliter. Neksus membahas hubungan yang rumit antara informasi dan kebenaran, birokrasi dan mitologi, serta kebijaksanaan dan kekuasaan.
Permasalahan utama bukan hanya mengenai banyak atau sedikitnya informasi.
Permasalahannya adalah bagaimana informasi tersebut dipilih, diperiksa dan digunakan.
Sebuah masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mempunyai mekanisme untuk mengetahui, mengakui dan memperbaiki kesalahan.
Ilmu pengetahuan dapat berkembang karena sebuah teori boleh dipertanyakan dan diuji kembali.
Demokrasi dapat bertahan karena keputusan pemerintah dapat dikritik oleh masyarakat, media, lembaga hukum dan pihak oposisi.
Sebaliknya, dalam sistem yang menutup ruang kritik, kesalahan dapat terus bertahan. Informasi yang sesuai dengan keinginan penguasa akan diperkuat, sedangkan informasi yang berbeda akan disembunyikan.
Karena itu, kebebasan informasi bukan hanya mengenai kebebasan untuk berbicara.
Kebebasan informasi juga membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, memeriksa fakta dan menerima kemungkinan bahwa kepercayaan kita selama ini mungkin keliru.
Pada zaman media sosial, tantangan tersebut menjadi semakin berat.
Kita menerima informasi dalam jumlah yang sangat besar setiap hari. Namun, banyaknya informasi tidak selalu membuat kita memahami dunia dengan lebih baik.
Kita justru dapat terjebak dalam ruang informasi yang hanya menampilkan hal-hal yang sesuai dengan pandangan kita.
Algoritma mempelajari apa yang kita sukai, apa yang kita takuti dan apa yang membuat kita marah. Kemudian, algoritma menyajikan informasi yang dapat membuat kita terus menatap layar.
Akibatnya, informasi tidak lagi hanya bersaing berdasarkan kebenarannya.
Informasi juga bersaing untuk mendapatkan perhatian manusia.
Privatisasi Informasi?
Pada masa lalu, informasi banyak dikuasai oleh kerajaan, lembaga agama dan pemerintah.
Mereka menentukan informasi apa yang boleh dicatat, disebarkan dan dipercaya oleh masyarakat.
Kemunculan internet pada awalnya memberikan harapan bahwa informasi akan menjadi semakin terbuka. Siapa pun dapat menulis, membaca dan menyampaikan pendapat tanpa harus memiliki surat kabar, stasiun televisi atau mesin cetak.
Namun, apakah informasi saat ini benar-benar menjadi milik semua orang?
Sebagian besar aktivitas digital manusia berlangsung melalui platform yang dimiliki oleh perusahaan swasta.
Kita mencari informasi melalui mesin pencari, berbicara melalui aplikasi pesan, membaca berita melalui media sosial dan menyimpan dokumen melalui layanan komputasi awan.
Setiap pencarian, klik, komentar dan lokasi dapat menghasilkan data.
Data tersebut kemudian digunakan untuk memahami kebiasaan manusia, memprediksi perilaku dan menentukan informasi apa yang akan muncul di layar kita.
Di sinilah muncul bentuk baru dari privatisasi informasi.
Informasi memang terlihat lebih mudah diakses. Akan tetapi, jalur penyebaran dan pengolahannya semakin terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan teknologi.
Mereka tidak hanya memiliki data dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki algoritma yang menentukan informasi mana yang mendapat perhatian dan mana yang perlahan menghilang.
Kekuasaan tersebut sangat besar.
Jika pada masa lalu seorang penguasa perlu mengawasi masyarakat menggunakan petugas dan mata-mata, saat ini pengawasan dapat dilakukan melalui data digital.
Bahkan, masyarakat sering kali menyerahkan data tersebut secara sukarela sebagai imbalan atas kemudahan menggunakan suatu layanan.
Kita memberikan informasi mengenai lokasi agar dapat menggunakan peta.
Kita memberikan data kebiasaan belanja agar mendapatkan rekomendasi produk.
Kita memberikan riwayat tontonan agar memperoleh hiburan yang sesuai dengan selera.
Sedikit demi sedikit, perusahaan teknologi dapat mengetahui manusia secara lebih mendalam.
Mereka mungkin mengetahui apa yang kita beli, siapa yang kita hubungi, konten apa yang membuat kita marah dan isu apa yang dapat memengaruhi keputusan kita.
Permasalahannya bukan hanya mengenai keamanan data pribadi.
Permasalahan yang lebih besar adalah siapa yang mempunyai kekuasaan untuk menggunakan data tersebut.
Data dapat digunakan untuk meningkatkan layanan kesehatan, pendidikan dan transportasi. Namun, data juga dapat digunakan untuk memanipulasi konsumen, mengawasi masyarakat dan memengaruhi pilihan politik.
Kehadiran AI membuat persoalan ini menjadi semakin rumit (Baca : Indonesia dalam Arus Big Data (Mahadata)).
Semakin banyak data yang dimiliki, semakin baik kemampuan AI dalam mengenali pola dan memprediksi perilaku manusia.
Suatu algoritma mungkin dapat mengetahui kelemahan emosional kita. Algoritma tersebut kemudian dapat menciptakan pesan yang berbeda untuk setiap orang dengan tujuan memengaruhi keputusan mereka.
Manusia mungkin merasa sedang memilih secara bebas.
Padahal, pilihan tersebut telah diarahkan melalui informasi yang dirancang khusus untuk dirinya.
Oleh karena itu, pertanyaan mengenai kepemilikan informasi menjadi sangat penting.
Siapa yang memiliki data kita?
Siapa yang boleh menggunakannya?
Apakah manusia memiliki hak untuk mengetahui bagaimana algoritma mengambil keputusan?
Dan siapa yang harus bertanggung jawab ketika keputusan algoritma merugikan masyarakat?
Harari tidak menyatakan bahwa seluruh perkembangan teknologi pasti membawa kehancuran. Teknologi informasi tetap dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan besar.
Namun, teknologi yang sangat kuat memerlukan mekanisme pengawasan yang juga kuat.
Kita tidak hanya membutuhkan algoritma yang cerdas. Kita membutuhkan lembaga yang mampu mengawasi algoritma tersebut.
Kita tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat. Kita juga membutuhkan informasi yang dapat diperiksa.
Kita tidak hanya membutuhkan jaringan yang luas. Kita membutuhkan jaringan yang mempunyai mekanisme untuk memperbaiki kesalahannya.
Pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah apakah AI lebih cerdas daripada manusia.
Masalah terbesarnya adalah apakah manusia cukup bijaksana dalam membangun dan mengendalikan jejaring informasi yang semakin kuat.
Sebab, seperti yang diperlihatkan dalam sejarah, informasi dapat membantu manusia membangun peradaban.
Namun, informasi yang salah, terkonsentrasi dan tidak terkendali juga dapat menghancurkannya.




Posting Komentar